manfaat-sunat-pada-priaPada mulanya ilmuwan barat selalu meremehkan manfaat sunat pada kaum pria. Tapi, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal medis PLoS Medicine membenarkan manfaat besar dari sunnah Rasul tersebut.

Sudah lama diyakini bahwa pria bersunat atau berkhitan memiliki risiko lebih kecil untuk terkena HIV dibanding pria yang tak bersunat. Namun, keyakinan itu selalu terganjal dengan pendapat sebagian ahli yang mengatakan bahwa jika pria disunat maka akan mengurangi kenikmatan hubungan seksual.

Seiring perkembangan zaman, akhirnya pendapat tersebut mulai ditinggalkan orang. Terlebih ketika virus HIV/AIDS merambah hampir ke seluruh dunia, dan belum ada obatnya hingga kini. Sebagian peneliti, melakukan penelitian pada akar masalah penularan.

Yang menarik, dari hasil penelitian itu, ternyata kebiasaan kaum muslimin mengsirkumsisi alat kelaminnya ternyata menjadi palang tercegahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh melalui hubungan badan. Lalu, apakah pria yang sudah telanjur dewasa juga perlu disunat supaya memperoleh manfaat yang sama? Bagaimana kalau sudah alot? Seorang peneliti dan Perancis menjawab, sebaiknya tetap sunat.

Dalam penelitian klinisnya, Dr. Bertran Auvert dari Hopital Ambroise-Pare di Boulogne, Prancis, secara random mengatur 1.546 pria tak bersunat usia 18-24 ber-HIV negatif untuk menjalani sunat di Afrika Selatan dan 1.582 pria lain sebagal kelompok kontrol.

Laporan Dr. Auvert yang dipublikasikan di jurnal medis PLoS Medicine, melaporkan bahwa mereka yang menjalani sunat diminta libur berhubungan badan selama enam minggu setelah prosedur sunat. Dari pemantauan terus-menerus selama 21 bulan, didapati ada 20 kasus inveksi HIV pada mereka yang bersunat, dan lebih parah lagi, ada 49 kasus di kalangan yang tak bersunat.

Periset mencoba menerangkan sejumlah kemungkinan mengapa sunat memberi efek perlindungan terhadapinfeksi HIV.

“Keratinisasi kelenjar yang tak tertutup oleh kulit di ujung penis, cepatnya penis mengering setelah kontak seksual, mempersingkat harapan hidup HIV di penis setelah kontak seksual dengan pasangan dengan HIV-positif,” ujarnya.

Selain itu, “Berkurangnya keseluruhan permukaan kulit di penis berarti berkurangnya sel yang menjadi sasaran empuk HIV. Padahal, sel yang empuk menjadi sasaran HIV ini banyak sekali terdapat di kulit ujung penis yang dibuang bila seorang pria bersunat.”

Dr. Auvert dan rekan memberi rekomendasi pada pria agar bersunat guna memperkecil risiko terinfeksi HIV terutama di kawasan-kawasan yang rentan HIV. Namun, ia mengingatkan pria agar tidak berpikir bahwa sunat merupakan perlindungan total terhadap HIV. “Kondom tetap perlu digunakan dalam setiap perilaku seksual yang berisiko,” katanya.

Manfaat Sunat pada Kaum Pria

Pada penelitian sebelumnya, membuktikan bahwa sunat bisa mencegah timbulnya kutil kelamin yang menjadi penyebab utama terjadinya kanker mulut rahim dan kanker anus. Kutil kelamin merupakan salah satu jenis penyakit kelamin yang terjadi pada daerah penis dimana penyebabnya adalah virus yaitu Human papillomavirus (HPV). Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, dalam jurnal kesehatan Sexually Transmitted Diseases, melaporkan bahwa dengan khitan atau sunat dan pemakaian kondom secara teratur akan mengurangi risiko terkena infeksi HPV pada penis.

Manfaat-Khitan-pada-Kaum-Pria

Penelitian ini dilakukan terhadap 393 pria yang datang ke klinik Penyakit Menular Seksual (PMS) Di Arizona, Amerika Serikat dari bulan Juli 2000 hingga Januari 2001. Pria-pria ini diajukan beberapa pertanyaan dan dilakukan pemeriksaan apusan penis untuk mengetahui DNA dari HPV, untuk melihat apakah mereka terinfeksi.

Pria yang melakukan hubungan seksual lebih dari 30 kali perbulan, tiga kali lipat lebih mungkin untuk menemukan HPV dibanding dengan pria yang melakukan hubungan seksual tidak lebih dari 5 kali perbulan.

Dan pria yang melakukan sunat dan penggunaan kondom secara teratur kelihatannya mampu untuk mencegah mereka menderita kutil kelamin. Pria yang disunat hanya sepertiganya yang terinfeksi, sedangkan bila pria tersebut menggunakan kondom, maka risikonya akan berkurang hingga separuhnya.

Penelitian Dr. Auvert itu ternyata mendukung hasil penelitian rekan sejawatnya beberapa tahun sebelumnya. Mereka (para ahli) akhirnya mengakui, bahwa khitan atau sunat bukanlah sekadar masalah perintah agama, tapi juga baik untuk kesehatan. Terlebih, penelitian kali ini, mengungkapkan akan manfaat sunat dalam menurunkan risiko tertular virus HIV (AIDS).

Pria yang tidak melakukan sunat (sirkumsisi) berisiko hingga dua kali lebih untuk terinfeksi virus HIV setelah melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya yang telah terinfeksi HIV. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang membahas penularan virus HIV pada pasangan heteroseksual (pria dan wanita), pada sekelompok pria yang sering berganti pasangan.

Dalam jurnal bulanan edisi 2003 yang membahasa tentang penyakit-penyakit menular menyebutkan penelitian itu dilakukan dengan mengumpulkan informasi perilaku seksual dari 745 supir truk di Kenya. Pria-pria ini semuanya diperiksa apakah terinfeksi virus HIV dan juga melihat apakah mereka telah melakukan sunat. Hasil ini dicatat sejak dimulainya penelitian di tahun 1993 dan diikuti terus hingga tahun 1997.

Selama masa penelitian ini, para supir truk tersebut memberikan informasi akan perilaku seksual mereka dengan istri, pasangan tidak tetap dan dengan PSK, dan dilakukan screening terhadap HIV dan penyakit hubungan seksual lainnya.

Pada akhir penelitian menunjukkan, bahwa kemungkinan pria untuk terinfeksi virus HIV setelah melakukan satu hubungan seksual sekitar 1 berbanding 160. Tapi bila pria itu belum disunat berisiko untuk terinfeksi virus HIV lebih dari dua kali lipat dibanding dengan pria yang telah disunat. Perbandingan untuk terinfeksi HIV yaitu 1 berbanding 80 (belum disunat) dengan 1 berbanding 200 (telah disunat).

Ini mungkin juga dapat menjelaskan mengapa terjadi penyebaran HIV yang tinggi di Afrika, yaitu kemungkinan disebabkan karena seringnya berganti pasangan dan sunat bukan sesuatu yang umum dilakukan di sana.

Tagged with:

Filed under: Kesehatan Reproduksi